Saat itu ialah tahun yang sangat dingin,
saat dimana keringat tergantikan air mata, harapan menjadi kenangan.
Pekerja itu harus terus berjalan sambil menggenggam batu.
Hari-hari yang dingin itu, ia habiskan bersama batu ditangannya.
Semakin dingin, semakin erat genggamannya.
Ketika air sungai tak lagi menyembuhkan dahaga, bunga-bunga melebur bersama tanah, ia tetap menggenggam batu itu.
Ketika ia sadar bahwa batu itu mampu membuatnya hangat, ia berhenti menggenggamnya.
Alih-alih mengira bahwa sedang menggenggam mawar, ternyata tangannya tlah terluka.
Hari yang sangat dingin itu, terasa sangat menyesakkan.
Tak mampu lagi menggenggam apapun.
Di hari itu, ia melepas batu itu dari genggamannya.
Melepaskan, mengikhlaskan, merelakan dan menerima bahwa lukanya tetap membekas.
Komentar
Posting Komentar