Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Ku akui..

Kelas siang tlah berakhir hari ini, rasanya ingin sekali merehatkan pikiran sejenak sebelum melanjutkan kegiatan organisasi sore nanti. akhirnya aku memutuskan untuk pergi membeli beberapa makanan ringan di swalayan dekat kampus.saat keluar dari swalayan, hembusan angin menghepas plastik makanan yang ku beli, hampir saja lepas dari genggaman. dingin "gumamku". Hujan. hujan.. pake payung neng "teriak seorang tukang parkir" ah iya mang, "jawabku" Langit terlihat begitu gelap tapi tak juga turun hujan, apa pepatah yang mengatakan mendung belum tentu hujan itu benar? "bisikku sambil berjalan menuju kampus" Disaat-saat seperti ini, semangat teman-temanku tak ikut layu ya.. liat saja mereka, langit gelap dan berangin begini masih juga rapat. Luh.. kesini sebentar luh "teriak seorang teman" Okay "jawabku sambil berjalan kearahnya" wah lagi rapat yaa? iya Luh, ini mau minta saran ya.. akhirnya aku memutuskan untuk ikut kumpul...

Perpisahan yang bermakna

Mungkin tugasmu dihidupku sudah selesai. Begitu pula dengan tugasku.” Ku tahu membenci masa lalu hanya akan membuatku berhenti untuk melangkah. Namun, belajar memaafkan kesalahan diri sendiri tidaklah mudah, karena semua hal kelam yang pernah ku lalui akan terus menghantui. Yang perlu ku sadari, semua yang terjadi dalam hidup ini sudah ada dalam skenario Allah. Bukankah begitu? Termasuk pertemuan kita dan perpisahan ini. Perpisahan denganmu adalah pertemuanku dengan perubahan. Ku sadari apa yang telah ku lakukan. Bahwa, ku tau, itu adalah salah. Apapun itu, aku mengikhlaskanmu untuk suatu alasan yang baik. Meninggalkan sebuah kenyamanan yang terkemas sedemikian rupa demi sebuah kebaikan, jujur, tidaklah mudah. Semoga Allah menjaga dan melindungimu. Jika jalan kita bertujuan sama, mungkin kita akan dipertemukan kembali, entah dalam satu cerita yang sama atau cerita yang berbeda. --------------------------------------------------------------------------------- Hasil Re...

Berjuang bersama diri sendiri.

Detik demi detik berlalu, entah mengapa hari-hari ini terasa sangat cepat.  langkah kaki terasa berat, tertatih mengejar mentari, seorang diri. Hati terasa sesak, beberapa kali ku coba menarik napas panjang tetap terasa sesak. Perih, ku kira tangan-tangan itu akan terus menggenggamku; berjalan bersama. Pada kenyataannya, ku berjuang sendirian. Harusku panggil apa? Sahabat? Teman? Hari terus berlalu, ku terus berjalan pelan. karena ku tau, ku takkan mampu berlari. Sejak hari dimana kalian memutuskan untuk mengambil jalan yang berbeda, ku coba ntuk bertahan. Aku harap kalian akan berubah pikiran, tapi kenyataannya, “Semangat! Kami akan selalu mendukungmu!”, Kalian melepasku sendirian, mengejar mentari. Tertatih-tatih.  Pada akhirnya, entahlah.. apa aku bisa menggapai mentari itu atau menyerah mati ditengah jalan? Tolong, selamatkan aku.