Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2022

Rantai

Tak terasa rantaian bulan telah terlewati dan akan segera berakhir,  Melewati banyak hal didalamnya, senang, sedih bagai sedang naik roler coaster. Tak mampu diabaikan ternyata telah terangkai rantaian yang baru pula, rantaian terindah bagai rantaian bintang di langit malam saat musim panas.  Rantai itu terus terjalin hingga aku sadar,  betapa aku sangat bersyukur,  memiliki rasa sebesar ini. Tak ada penyesalan dengan rasa sebesar ini. Bahkan saat ini, kebahagiaannya adalah impianku. Betapa besarnya rasa ini,  hingga kecewaku tak lagi bisa ku sampaikan. Aku akan berusaha menyudahinya sendiri,  amukan emosi di dalam diri. agar saat kembali bersamanya,  aku akan menyambutnya dengan rasa aman.

Badai

..... Siapa saja, tolong selamatkan aku! Hujan deras, banjir bandang, angin topan menerjang kota dengan tiba-tiba.  semuanya berantakan, kacau, banyak penduduk kota yang kehilangan harta bendanya. kami semua tenggelam. Ketika angin begitu dasyatnya menyeret benda-benda hingga beterbangan ke langit,  penduduk kota berteriak untuk menyelamatkanmu Tuan! Penduduk kota sebisa mungkin mendorongmu keluar kota, mereka menyelamatkanmu dari amukan emosi, pikiran yang berlebihan dan semua rasa cemburu yang menghancurkan kota ini. Pergilah Tuan!  Tanganku tak sampai untuk menyelematkanmu,  ku biarkan penduduk kota membawamu. Saat melihatmu tlah diujung gerbang kota, aku tersenyum. Tuan, tolong jangan menangis.  Aku sangat menyayangimu. ku biarkan kelopak bunga itu tenggelam dengan semua penyesalannya, sesak, sangat sesak. beberapa kali ia teriak minta tolong. tapi ku biarkan saja.  ia telah membuatmu menangis Tuan, lagi dan lagi. biarkan ia dihukum atas amukan emosinya...

Matahariku.. #sunsei

Matahariku..  aku tau kamu laki-laki yang baik,  Hati kamu baik Rasa kamu tulus. Matahariku.. aku takkan biarkan awan hitam merenggut senyum manismu. Matahariku.. tolong jangan menangis.  Aku tau, aku hanyalah bunga kecil. tapi dibawah sini, aku slalu mendoakanmu.  melihatmu dari jarak sejauh ini sama sekali tak membuatku lelah. Hujan badai yang telah menerpa kelopakku tak kan membuat pandanganku hilang padamu. Matahariku.. tolong lihatlah kesini, ke bawah sini. ada aku, si bunga kecil yang berharap bisa menggapaimu suatu hari nanti. aku selalu berharap ada angin yang membawaku terbang agar bisa bersamamu. aku selalu berharap sinarmu hanya untuk aku. apa aku berlebihan? Matahariku.. Tolong bersinarlah, lebih terang dari hari ini. ada aku, si bunga kecil yang akan selalu bersamamu, mendoakanmu.

Mereda

 Hai Tuan,  Apa kabar hatimu? akhir-akhir ini tuan terlihat begitu bahagia, baguslah.  karena senyummu begitu indah tuan.  Tuan teruslah tersenyum bahagia, walau tak ada lagi bunga yang mewarnai taman.  karena hadirnya dirimu mampu mewarnainya. Tuan teruslah bersinar, walau hujan terus saja turun.  karena hujan takkan mampu menghapus kilaunya sinarmu.  Tuan..  Bagaimana kalau aku pamit pergi saja? hujan begitu deras hingga membuat dadaku terasa sesak. Tuan.. Jika bersamaku hanya membuatmu terjebak dengan perasaan tak bahagia, membuat hatimu berat, menemaniku terasa beban bagimu, maka jangan dipaksakan tuan. Tuan.. Berbahagialah bersama yang lebih pantas kau bahagiakan. dan tolong teruslah berjalan kedepan, jangan menoleh. biarkan aku disini saja, sendiri lagi.

aku terlanjur basah kuyup

 .....Aku sadar, harusnya sejak awal aku harus lebih sabar. Pagi itu, Matahari yang ku tunggu bersinar begitu terang, hingga angin mulai menyapa bersamaan dengan awan putih dibelakangnya.  Ku pikir hari ini akan baik-baik saja, ... "Pagi ini cuacanya cerah sekali, semoga sorenya tdk hujan" gumamku.  setelah semua pekerjaan selesai dan memutuskan untuk pulang,  angin itu menyapa lebih lembut, Matahariku hilang.  kini langit terlihat abu-abu dan perlahan hujan pun turun. "wah hujan?, sebaiknya ku tunggu saja sampai reda" kataku. sejam, dua jam ternyata hujannya belum juga reda.  "harus menunggu berapa lama lagi?" kataku tidak sabar.  "hujan-hujanan juga enak kayaknya deh" ..... Akhirnya ku putuskan menikmati derasnya hujan,  awalnya sangat menyenangkan, merasakan setiap butiran airnya yang jatuh menimpaku,  membayangkan hal-hal yang menyenangkan, hingga akhirnya jari-jari tangan mulai mengkerut, badanku mulai kedinginan.  tapi perjalanan m...