Hari itu langit biru tak bisa berbohong lagi,
ia membiarkan awan putih lewat dan menetap,
hingga menutup sebagian dirinya, istrahat katanya.
Pernah sekali ku merasa sangat bahagia berada di arus yang deras ini, sangat ramai.
Pernah sekali ku merasa sangat bahagia berada di arus yang deras ini, sangat ramai.
melihat diri dipenuhi pujian dan candaan.
melihat mereka yang begitu bersinar, Aku ingin seperti mereka. "gumamku"
Tapi..
Semakin ke hilir, arusnya semakin deras,
entah aku yang sedang berjuang mati-matian agar sesuai ritme mereka atau memang aku yang ternyata memang tak bisa berenang? "gumamku"
semakin ku paksa, rasanya semakin kesulitan.
mencoba mengambil nafas beberapa kali, tapi tak cukup juga.
"tolong pegang tanganku" teriakku.
Arus deras ini membawa mereka melewatiku begitu saja.
"apa mereka tak melihatku? "tanyaku"
tiba-tiba,
"ayo sebentar lagi sampai finish" "teriak mereka"
Melihat jari-jari mulai mengkerut kedinginan, tetap ku coba memaksakan diri.
ahh, kenapa aku selemah ini?
arus deras ini benar-benar menyiksa.
bukan hanya sangat deras tapi juga sangat dingin.
bahkan ditengah arus yang deras ini tak ada satupun yang ingin mengulurkan tangan.
ku putuskan ntuk menepi.
mencoba mengatur nafas, mengeringkan baju-baju yang basah, mencoba menghangatkan diri.
"jangan terlalu memaksakan diri" Seseorang mengetuk bahuku.
"Setiap orang memiliki ritme yang berbeda, Jika merasa sangat lelah maka menepilah. atur kembali ritmenya: menepi bukan berarti menyerah. istrahat dulu, nanti lanjut lagi" sambil tersenyum ia pergi begitu saja.
hah siapa itu? "tanyaku"
kalau dipikir-pikir selama ini aku selalu ingin seperti mereka, bahkan lebih dari itu.
tapi nyatanya, banyak hal yang perlu ku tata ulang termasuk niatku.
hm baiklah, aku menepi dulu yaa..
nanti aku lanjut lagi.
----
"hihh dingin" bisikku; angin menerpa bajuku yang basah.
"sini teh ambil handuknya, ntar masuk angin"- "kata mamah"
Komentar
Posting Komentar