Langsung ke konten utama

Menepi

Hari itu langit biru tak bisa berbohong lagi,
ia membiarkan awan putih lewat dan menetap,
hingga menutup sebagian dirinya, istrahat katanya.

Pernah sekali ku merasa sangat bahagia berada di arus yang deras ini, sangat ramai.
melihat diri dipenuhi pujian dan candaan.
melihat mereka yang begitu bersinar, Aku ingin seperti mereka. "gumamku"

Tapi..
Semakin ke hilir, arusnya semakin deras, 
entah aku yang sedang berjuang mati-matian agar sesuai ritme mereka atau memang aku yang ternyata memang tak bisa berenang? "gumamku"

semakin ku paksa, rasanya semakin kesulitan.
mencoba mengambil nafas beberapa kali, tapi tak cukup juga. 
"tolong pegang tanganku" teriakku.
Arus deras ini membawa mereka melewatiku begitu saja.
"apa mereka tak melihatku? "tanyaku"

tiba-tiba,
"ayo sebentar lagi sampai finish" "teriak mereka"
Melihat jari-jari mulai mengkerut kedinginan, tetap ku coba memaksakan diri.

ahh, kenapa aku selemah ini?
arus deras ini benar-benar menyiksa.
bukan hanya sangat deras tapi juga sangat dingin. 
bahkan ditengah arus yang deras ini tak ada satupun yang ingin mengulurkan tangan.

ku putuskan ntuk menepi.
mencoba mengatur nafas, mengeringkan baju-baju yang basah, mencoba menghangatkan diri.

"jangan terlalu memaksakan diri" Seseorang mengetuk bahuku.
"Setiap orang memiliki ritme yang berbeda, Jika merasa sangat lelah maka menepilah. atur kembali ritmenya: menepi bukan berarti menyerah. istrahat dulu, nanti lanjut lagi" sambil tersenyum ia pergi begitu saja.

hah siapa itu? "tanyaku"
kalau dipikir-pikir selama ini aku selalu ingin seperti mereka, bahkan lebih dari itu.
tapi nyatanya, banyak hal yang perlu ku tata ulang termasuk niatku. 

hm baiklah, aku menepi dulu yaa..
nanti aku lanjut lagi.

----
"hihh dingin" bisikku; angin menerpa bajuku yang basah.
"sini teh ambil handuknya, ntar masuk angin"- "kata mamah"








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beda

Hal itu terjadi lagi kalo aku terus bayangin mimpi itu jadi kenyataan. Seolah olah duniaku yg bahagia ini akan segera berakhir.  Semenjak bertemu dia diawal tahun 2015, duniaku berubah bahagia. Semua teman-teman bilang kalo aku ketawa gak ditahan-tahan lagi, kalo aku senyum gak ditahan-tahan lagi, semuanya lepas begitu saja. Karna aku tau, aku telah menemukan yg aku cari dan aku bahagia.  Aku adalah orang yang benci perpisahan. Aku slalu saja jadi orang yang paling menangis saat perpisahan tapi sangat cepat melupakan kenangan. Bukannya..aku cepat melupakan kenangan sih, aku hanya saja gak ingin mengingat hal yang membuatku sedih dan meskipun itu hal yg bahagia. karna.. aku tau, aku gak bakal bsa balik lagi ke masa itu.  Hari ini beda, perasaanku campur aduk. Lagi-lagi semenjak dia bilang, dia bakal balik. Mm..  Lagi-lagi perpisahan. Uhh smnjak detik, menit itupun perasaanku langsung down. Tiba-tiba aja rasanya sepih.  Bingung, rasanya sedih.. Rasanya pengen nang...

Edelweiss

Edelweiss.. Bunga yang bisa kita temui hanya didataran tinggi, yang ketika ia tumbuh kadang diantara celah-celah bebatuan. Bunga yang memiliki kandungan hormon etilen ini, menjadikan ia bisa bertahan hingga 10 tahun lamanya. maka tak heran jika masyarakat menyebutnya bunga abadi bahkan tak jarang dijadikan lambang cinta sejati.  Edelweiss.. bunga ini akan sangat cantik, ketika kau melihat tangkai bunganya melambai-lambai tertiup angin. Bunga ini tumbuh penuh kesederhanaan, hidup diantara celah bebatuan. terus tumbuh dan bertahan.  Ya Allah.. i ask You for Your Love, and the Love of those who Love You, and the Love of every action that brings me closer to Your Love. Allahumma Aamiin

Berdua

 .. ternyata ada kisah yang lebih menarik selain kisah kapal besar dengan penumpang yang tersesat dan nahkoda yang tau segalanya. aku mendapati kisah yang haru dan hangat dari sebuah kapal kecil di sebrang pulau. Kapal kecil itu berniat berlabuh mengarungi samudera katanya,  membawa sepasang manusia yang memiliki kemampuan berbeda.  satunya mampu membaca peta sedangkan yang satunya mampu membaca mata angin,  dan mereka percaya.. bahwa kapal kecil itu pasti mampu berlayar. Bahagianya, mereka tak saling menuntut bahwa yang paling mengerti kapal harus mengajari yang lainnya. dan menariknya, ketika satu persatu pulau telah terlewati, hingga tiba-tiba harus terhenti di tengah lautan karena tak ada angin satupun yang lewat.  tapi ternyata mereka tak menyerah begitu saja.  Mereka menikmati setiap momen dengan sederhana,  Kapal terhenti karena tak ada angin?  waktunya untuk berbincang dan tertawa.  menikmati secangkir kopi dengan pemandangan laut yan...