Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2023

Puisiku

Ku tatap lautan bintang sang askara yang indah, berteman lambaian angin mengekang dalam lamunan, Selaksa luapan rasa dalam dada tenggelam dalam genangan air mata Angin merintih menembus kesunyian mengurung ilusi dalam nirwana Mata Indah itu, aku melihat ada bintang disana, berbinar-binar penuh kehangatan.  Senyum manis itu, aku bagaikan sedang membaca puisi  penuh diksi yang indah sangat menyenangkan. Bagai sebuah kesyukuran melihat matahari masih tetap ada diatas sana, sungguh hal lain yang patut di syukuri ialah kehadirannya di duniaku. Aku menitipkannya pada sangat Pencipta, Agar menghapuskan kegelisahan dan kesedihannya. ku mohon semesta untuk memeluknya, jangan biarkan ia menyepi dan kedinginan ku mohon angin menemaninya, meniupkan dedaunan agar langkah kecilnya menyenangkan. Jika tak bersamanya, ku merayu semesta lagi.. itu karena aku sudah berada dibawah tanah, sebagai alasannya. Rindu dan Doa untukmu, yang terkasih.  Aiy.

Lihatlah, hatiku.

 Tangkai kering yang ku rangkai bersama bunga-bunga kecil, Sengaja ku pilih warna merah yang sedikit gelap sesuai warna kesukaanmu.  lalu, ku letakkan di depan pintumu.  hari-hari buket bunga itu  ku lutekkan hingga menumpuk memenuhi pintu rumahmu. apa masih tak terlihat? "tanyaku" hari-hari masuk ke hutan gelap dan menyesakkan mencari tangkai kering dan bunga merah itu. ku ingin kamu melihatnya, bunga itu. "apa masih tak terlihat?" tanyaku lagi  hari-hari dimana langit terlihat lebih mendung dari biasanya, tak ada pelangi, begitu pula hujan yang jatuh tanpa segan. akhir-akhir ini, aku kesulitan menerjemahkan sikapmu. apa kita masih di frekuensi rasa yang sama? atau aku yang sedang berjuang sendiri? dingin dan menyesakkan. adakah hati lain yang sedang kau tuju? apa bukan aku? hatiku sesak seperti ada luka menganga disana,  Sejak kau berhasil mengambil jiwaku, dan aku berjalan sesuai bagaimana hatimu. aku tak pernah merasa sekebingungan ini. aku masih ingin ...

Waktu dan kamu

Lirikkan jam dinding itu sangat menikam, entah karena ia paham aku sedang mengutuknya  atau karena kasian melihatku. tiap detiknya sangat menyiksa, melahirkan bait-bait tanya yang tak ada jawaban. ingin mengutuknya, waktu. tapi ia juga beri bahagia. Tiap menitnya sangat memilukan, merangkai harapan yang tak ada kepastian. sangat menyayanginya, kamu. tapi ia juga rindu yang menyakitkan. tiap jamnya sangat menakutkan, mengharuskan cerah dilangit kelabu. Tolong hentikan, waktuku ini, tak mau lagi menatap langit biru itu sendiri. tak mau lagi basah kuyup sendiri. tolong bersamaku, saja.

unsaid

Maafkan aku, jika kamu harus memilihku dengan kepastian yang ragu.  Maafkan aku,  jika kamu harus memilihku karna opsi pertama yang kamu punya pergi ninggalin kamu. Maafkan aku,  Jika kamu harus memilihku karena aku adalah jalan buntu yang mau gak mau harus kamu tuju. Maafkan aku, Jika kamu harus mematahkan hatiku satu-satunya dengan memilihku padahal maumu bukan aku. sebenarnya cinta itu seperti apa? "tanyaku" Apa selama ini aku kegeeran?  menganggap bahwa kita berada diurutan yang sama. di opsi yang sama.  kenyataannya aku selalu menjadikanmu PEMENANG,  tapi mungkin buat kamu aku gak lebih dari sebuah opsi cadangan.  Aku sangat Bahagia bertemu kamu,  tapi maafkan aku, jika kamu belum bahagia bertemu denganku.