Aksi
dan Demonstrasi
Aksi,
banyak kalangan masyarakat ataupun mahasiswa yang merepresentasikan aksi hanya
pada satu titik, yaitu demonstrasi saja. Padahal kenyataanya tidak seperti itu,
aksi tidak sama dengan demonstrasi. Makna aksi itu sangatlah luas. Ketika kita
belajar, maka itu adalah sebuah aksi. Ketika kita berdiskusi, maka itu adalah
aksi. Ketika kita protes, maka itu adalah aksi. Lain hal ketika kita diam
karena tidak berfikir, maka itu bukan merupakan aksi karena aksi itu bergerak,
bukan diam. Aksi itu menghasilkan, tidak nihil. Jadi, aksi secara praktis dapat
diartikan sebagai unjuk sikap atau kekuatan sebagai perwujudan gejolak emosi
yang saya, kamu atau kita miliki. Demonstrasi atau biasa disingkat Demo. Ada
dua pengertian yang melekat pada sati kata ini. Pertama protes yang dilakukan
secara massal dihadapan umum. Kedua, memperagakan atau mempertunjukan melakukan
sesuatu sebagai referensi bagi peserta. Demonstrasi juga merupakan media
pencerdasan atau pembodohan secara massif. Karena memang yang berperan dalam
kegiatannya adalah massa yang berjumlah banyak, sehingga opini yang dimunculkan
pun memiliki kekuatan massa.
Aksi
dan Demonstrasi merupakan sebuah set atau himpunan bagian, dapat diartikan
bahwa Demonstrasi merupakan bagian dari Aksi, bukan sebaliknya. Di kalangan
mahasiswa tentu tidak asing lagi yang namanya demonstrasi atau aksi turun ke
jalan. Mahasiswa sendiri adalah
kaum intelektual yang mempunyai kesempatan belajar pada level pendidikan formal
tertinggi. Mahasiswa sering disebut sebagai “Agent social of change” atau agen
sosial perubahan. Kenapa mahasiswa disebut sebagai agen sosial perubahan? Kita
lihat kembali pada tahun 1998, dimana
mahasiswa bisa menggulingkan presiden pada masa pemerintahannya waktu itu
dengan melakukan aksi demonstrasi besar-besaran. Jelas, aksi tersebut sangat
membawa agenda besar untuk melakukan perbaikan yang sifatnya mendesak dan butuh
represifitas yang tinggi. Selama tahun 1998 – 2004, aksi mahasiswa masih bisa
dijadikan sarana untuk menunjukan perhatian para mahasiswa terhadap persoalan
bangsa. Tetapi saat ini, banyak pihak yang sudah jemu dengan aksi-aksi
tersebut. Rakyat sudah semakin skeptis dengan aksi-aksi yang kita lakukan.
Media sudah tak lagi menganggap aksi-aksi mahasiswa sebagai berita yang patut disebarluaskan
secara massif. Karena kenyataannya, saat mahasiswa melakukan aksi demonstrasi,
mahasiswa sering merusak sarana-sarana publik, memanjat pagar ataupun membakar
ban ditengah jalan. Dan hasilnya, demonstrasi mahasiswa kini benar-benar terasa
kosong tak bermakna. Selain itu, demonstrasi kini juga sudah tidak mendapat
perhatian publik, sehingga upaya kita menunjukan perhatian pada masalah bangsa
sudah menjadi tidak efektif.
Oleh karena itu, sudah saatnya kita para mahasiswa merubah arah
pergerakan kita. Kita harus memperdayakan potensi intelektual kita untuk
memberikan solusi konkrik buat bangsa. Seperti melakukan kegiatan-kegiatan
pelatihan komputer gratis untuk rakyat yang sangat berhubungan dengan
permasalahan teknologi pada saat ini. PKM (program kreatifitas Mahasiswa) juga
dapat menjadi sarana memberikan solusi konkrit untuk bangsa. Maka sekarang dan
kedepannya tinggal kita sebagai mahasiswa yang memilih. Ketika kita mau
beraksi, maka yang mau kita lakukan apakah aksi melalui tulisan atau aksi melalui
pengabdian masyarakat atau aksi melalui demonstrasi.
Sumber :
Mahasiswarakyat.wordpress.com
Doupafia.wordpress.com
Komentar
Posting Komentar