Ketika pucuk merah tlah bersemi dengan indah di tengah hujan yang tak menentu.
Ketika itu pula semua dimulai;
Ketika itu pula semua dimulai;
dari balik jendela yang jauh ini,
dibawah derasnya hujan,
beratnya angin menerpa.
ia berdiri tegap dan indah.
Aku mengaguminya.
ia mampu membuatku lebih mencintai diriku sendiri.
aku menyayanginya.
ia mampu mencairkan bekunya hatiku
ia mengobati lukaku
ia mematahkan semua overthinkingku.
aku ingin mencintainya,
aku mampu menerima semua tentangnya, menemaninya dalam keadaan apapun.
aku mampu menjadikan ia satu-satunya.
tapi rasanya..
hujan masih saja turun tak tentu,
dan mengatakan bahwa aku tak mampu memilikinya.
Apa aku harus terus menunggu datangnya pelangi?
Jika beberapa kali aku terus menerobos hujan, aku tlah mengungkapkan segalanya.
hingga rasanya tlah melewati batas.
jadi, aku harus bagaimana? aku ingin ia slalu bersamaku. tapi..
Ya Rabb, aku sangat mengaguminya.
Jika memetik pucuk merah adalah cara mencintai yang salah.
maka ku biarkan ia tetap disana,
begitu juga dengannya, memaksa ia untuk bisa dimiliki bukanlah hal yg benar.
maka, melepaskannya dalam keikhlasan ialah caraku mencintainya.
:''(
Komentar
Posting Komentar