Langsung ke konten utama

Senja di Pare


Siang itu angin bertiup tak biasanya. Sudah hampir dua minggu semenjak aku di kota ini, hujan belum juga turun. tapi tak masalah, langit disini terlalu indah jika ditutupi permen kapas, yang mereka sebut awan. 
Ketika angin menyapa debu dan dedaunan didepanku, mereka seolah-olah sedang menari bahagia. Entah mengapa mereka seperti tau apa isi hatiku saat itu. 

Siang itu, aku terpaksa keluar asrama karena rasa lapar yang tak bisa ku tahan lagi. Meski angin sesekali berhembus tetap saja panasnya mentari tak mau mengalah. Ku berjalan sambil melirik hp sesekali, berharap janji yang senja katakan waktu itu, ia tepati.
ku memilih warung makan yang tak jauh dari asrama, lalu memesan makanan kesukaanku. sambil menunggu pesanan, Mbak xx sesekali memberiku pertanyaan. "kamu kenapa toh? dari tadi lirik sana, lirik sini?''
"ahh menunggu teman mbak" jawabku sambil tertawa"
"haduh.. teman atau teman nih?" jawab mbak xx khas dgn logat jawanya.
"haha iya atuh mbak" jawabku singkat.
setelah selesai menghabiskan makan siang. ku meilirik jam dilayar handphone, ternyata sudah jam setengah 3. harusnya aku sudah balik ke asrama sekarang, karena sore ini akan ada arround Pare (harus ngantri kamar mandi lebih cepat) "gumamku".
Tiba-tiba pesan masuk, berisi janji yang senja katakan waktu itu. lalu secepatnya ku balas dan..."hem hem", seketika itu langsung ku palingkan wajahku ke barat jalan tepat dimana matahari akan tenggelam. tiba-tiba saja, angin yang sejak tadi menari-nari bersama dedaunan, berhenti. dan seakan waktu pun berhenti. sebenarnya tak ada yang istimewa, hanya saja senja itu slalu bisa membuatku kuat. kala ku mulai tak percaya diri, ia slalu memberikan senyum terbaiknya.
Senyum hangat yang pernah ku lihat malam lalu, ternyata ku lihat lagi sore itu. benar, janji yang senja katakan beberapa hari lalu, sudah ia tepati. Bahagia? Jelas. No words can describe how happy i am.
.
.
.
Sadar luh! sadar sadar! "sepanjang perjalanan pulang, tak henti-hentinya ku memukul jidat sendiri. Harusnya aku sadar sejak awal, takkan ada senja abadi tanpa malam dan pagi, begitupun cinta. takkan ada cinta sejati tanpa ikrar dan ridho Ilahi. "sambil menghapus beberapa foto, ku cukupkan kisahku."

[ Ditempat ini, ku belajar menyukai senja. meski indahnya sementara tapi begitu mengesankan. Terima kasih.]


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beda

Hal itu terjadi lagi kalo aku terus bayangin mimpi itu jadi kenyataan. Seolah olah duniaku yg bahagia ini akan segera berakhir.  Semenjak bertemu dia diawal tahun 2015, duniaku berubah bahagia. Semua teman-teman bilang kalo aku ketawa gak ditahan-tahan lagi, kalo aku senyum gak ditahan-tahan lagi, semuanya lepas begitu saja. Karna aku tau, aku telah menemukan yg aku cari dan aku bahagia.  Aku adalah orang yang benci perpisahan. Aku slalu saja jadi orang yang paling menangis saat perpisahan tapi sangat cepat melupakan kenangan. Bukannya..aku cepat melupakan kenangan sih, aku hanya saja gak ingin mengingat hal yang membuatku sedih dan meskipun itu hal yg bahagia. karna.. aku tau, aku gak bakal bsa balik lagi ke masa itu.  Hari ini beda, perasaanku campur aduk. Lagi-lagi semenjak dia bilang, dia bakal balik. Mm..  Lagi-lagi perpisahan. Uhh smnjak detik, menit itupun perasaanku langsung down. Tiba-tiba aja rasanya sepih.  Bingung, rasanya sedih.. Rasanya pengen nang...

Hi, it's Me!

 Hi, it's me.. long time no write something here.  i've been through a long long journey to find my self again.  i wanna say sorry for my self, sorry to make her sad and crying overnight. sorry to make her over thinking about someone who don't care about her.  but i  also wanna say thank you for my self, because she could through this journey with patience and tawakal, and also keep make a positive progress in everyday. thank you 'i said to my self' i have a big dream in the future, i don't wanna give up easily . "Hanging There"! something good will coming soon! InsyaAllah keep it going and don't give up on you dream!

Part 1

Pernah kah ada yang bertanya tentang siapa yang kita sukai?  Langit melukis warna orangenya yang indah. Angin berhembus begitu lembutnya menerpa kerudung yang dikenakan zahra. Dia masih ingat ketika dua tahun lalu saat ia pertama kali datang ke kota ini. Hari ini adalah kali ketiga ia datang setelah berkunjung dari kampung halamannya. Terminal bus inilah yang pertama kali melukis kisah hidupnya.  Angin sore itu terasa dingin. Seorang gadis mengenakan kerudung orange baru saja turun dari salah satu bus antarprovinsi. Dia datang seorang diri sambil membawa tas ransel dan juga tas kecil isi perbekalan yang dimasak ibu kemarin. Perjalanan yang panjang cukup menghabiskan bekal yang ia bawa. Memang betul kata om aji perjalanan kesini memakan waktu yang cukup lama, bahkan mandi pun tak sempat. Ini pertama kalinya ia pergi seorang diri ke tempat yang jauh. Hanya berbekal nasihat dan juga masakan yang dibuat ibu. "ketika sampai di kota ini jangan pasang wajah linglung atau seperti tida...